Logo
images

Korupsi Kursi Tribun Stadion Kendal Seret Dua Tersangka

KENDAL – Pengadaan kursi tribun stadion utama Kebondalem Kendal senilai Rp 2 miliar diduga penuh dengan rekayasa dan permainan dalam proses lelang. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal sendiri telah menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan kursi tribun Stadion Utama Kendal ini.

Dua tersangka yakni, Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) yang merupakan PNS di lingkungan Pemkab Kendal berinisial CU serta Direktur CV Cipta Idola Perdana  inisial FH selaku pihak ketiga atau pelaksana pekerjaan pengadaan kursi tribun.

Kepala Kejari Kendal, Yeni Andriani mengatakan keduanya dijerat dengan pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-undang (UU) nomor 31 tahun 1999 sebagaimana ditambahkan dalam UU nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Ancaman pidana jeratan dua pasal tersebut adalah 20 tahun penjara,” katanya Jumat, (14/11) di sela acara pisah sambut Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Kendal dari yang lama Kirno ke yang baru Zaiful Alim Said  Jumat (14/11) siang.

Proyek pengadaan kursi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Pemkab Kendal dimulai pada 2013 dengan pagu anggaran senilai Rp 2 miliar. Jumlah kursi untuk memenuhi tribun Stadion Kendal sebanyak 1.000 buah.

Kemudian dilakukan lelang dan diikuti sebanyak 14 peserta. Dari jumlah peserta, panitia lelang menetapkan ada tiga peserta yang lolos kualifikasi. Yakni CV Cipta Idola Perdana dengan penawaran 1,87 miliar, CV Bina Tani sebesarRp 1,972 miliar dan PT Anugerah Mega Gemilang dengan penawaran Rp 2,095 miliar.

“Indikasi sementara ada dugaan pengaturan lelang, sehingga CV Cipta Idola Perdana bisa muncul sebagai pemenang. Karena CV Cipta Idola Perdana dengan CV Bina Tani pemiliknya ada hubungan keluarga, sedangkan PT Anugerah Mega Gemilang  menawar diatas pagu, ini jelas aneh karena alamat sudah kosong,” imbuh Kajari.

Selain itu , indikasi lainnya yakni barang tidak sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak pekerjaan. Sedianya kursi harus mencantumkan Standar Nasional Indonesia (SNI).  “Tapi ternyata dalam kontrak dan barang tidak ada logo SNI,” jelasnya.

Anehnya, pada saat lelang pekerjaan, panitia belum membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS).  Padahal sebelum dilelang, harusnya HPS sudah dibuat agar peserta lelang bisa memperikirakan kemampuan perusahaannya. “Munculnya HPS justru setelah ditetapkan pemenang lelang,” tandasnya.

Sampai sekarang, penyidik belum berani membeber nilai kerugian negara yang diakibatkan dari praktik korupsi ini. Menurut Yeni, pihaknya masih akan meminta keterangan sejumlah pihak untuk melengkapi berkas pemeriksaan kedua tersangka. (MJ-01)



Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Tinggalkan Komentar